Lalu bagaimana cara mengkategorikan seseorang/keluarga/rumah tangga sejahtera atau prasejahtera? Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan publikasi indikator terkait kesejahteraan rakyat. Taraf kesejahteraan dikaji menurut delapan bidang yang mencakup Kependudukan, Kesehatan dan Gizi, Pendidikan, Ketenagakerjaan, Taraf dan Pola Konsumsi, Perumahan dan Lingkungan, Kemiskinan, serta Sosial Lainnya yang menjadi acuan dalam upaya peningkatan kualitas hidup3. Namun apakah semua indikator atau kriteria tersebut masyarakat pahami? (meskipun masyarakat tidak harus memahami hal tersebut), pastinya belum tentu. Lantas apakah masyarakat acuh tak acuh, tidak 'menilai' seseorang/kelompok terkait kesejahteraannya? rasanya tidak, masarakat cenderung 'menilai' hal tersebut. Lalu apa indikator atau acuannya? tulisan ini mencoba membedah indikator tersebut secara subjektif yang mungkin cocokologi, apa indikator sejahtera menurut masyarakat Indonesia (terutama Jawa perkampungan)
Saya menggunakan pendekatan seni musik sebagai karya masyarakat (pengarang lagu) yang mana pastinya dilatarbelakangi oleh kejadian fakta atau imajinasi/bayangan/opini pengarang lagu tersebut. Saya akan menuntun kembali ke beberapa tahun yang lalu, sempat trending lagu berjudul "Jamu Pegel Mlarat" ciptaan Poer Brigade (Scatter) & Yon's Nirwana yang dibawakan oleh OM. ADELLA (OM kesukaan saya). Mari kita baca beberapa penggalan lirik lagu tersebut
Sakjane aku wes ora kuat/ Sebenarna aku sudah tak kuat
Sakjane aku wes pegel mlarat/ Sesungguhnya aku sudah capek miskin
Kepengen nduwe sedan mengkilap/ Ingin punya mobil sedan yang mengkilap
Duit sak milyat lan omah tingkat/ uang Rp1 Miliar dan rumah tingkat
Penulis lagu berpandangan bahwa orang yang sejahtera adalah orang yang memiliki mobil sedan, uang Rp 1 Milyar dan rumah tingkat (merujuk pada rumah tapak tingkat). Secara kasatmata masyarakat menilai sejahtera kalau punya mobil dan rumah bagus (tanpa dilengkapi bagaimana status kepemilikan aset tersebut, namun secara alamiah/normal berasumsi statusnya milik sendiri). Setelah itu, mari kita lompat ke lagu berikutnya, berjudul "Mendung Tanpo Udan" ciptaan Kukuh Prasetya Kudamai yang dipopulerkan oleh Ndarboy Genk. Mari kita baca beberapa penggalan lirik lagu tersebut
Awakdewe tau duwe bayangan/ Kita pernah berangan-angan
Besok yen wis wayah omah-omahan/ Esok hari ketika sudah berumah tangga
Aku moco koran sarungan/ Aku membaca koran mengenakan sarung
Kowe belonjo dasteran/ Kamu belanja mengenakan daster
Menurut pencipta lagu, kondisi ideal rumah tangga/suami-istri adalah seorang suami bersantai-santai mengenakan sarung sambil membaca koran dan istri belanja belanja untuk dimasak mengenakan daster. Mas Poer dan Mas Yon's melihat sejahtera dari sisi aset (mobil dan rumah), sedangkan Mas Kukuh melihat kesejahteraan dari aktivitas senggang harian (dalam ekonomi dikenal istilah Leisure time). Namun keduanya belum membahas apa definisi sejahtera menurut pekerjaan, mari kita 'bedah'.
Kita tekah mendapatkan keyword atau kata kunci sejahtera yaitu mobil, rumah, waktu luang. Pekerjaan (terutama suami, mohon maaf kita kesampingkan konsep kesetaraan gender dulu) apa yang merupakan irisan sempurna ketiganya?
- Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pegawai yang digaji dari APBN yang disetarakan dengan PNS/pegawai lembaga yang berkaitan dengan pemerintah. Sebagai ilustrasi, PNS di Jawa Tengah menurut media Pikiran Rakyat Cilacap perbulannya mendapatkan gaji berkisar Rp5,3 Juta - Rp12 Juta (dari golongan IIIA-IV)4 belum jika menghadiri rapat atau perjalanan dinas kemungkinan besar mendapatkan uang harian. Namun demikian perlu catatan jumlah anak dan status pekerjaan istri (bekerja/ibu rumah tangga) akan mempengaruhi kecepatan terealisasinya irisan tersebut terutama mobil dan rumah. Kondisi paling ideal antara pekerjaan ini dan 3 kata kunci adalah suami dan istri merupakan PNS. Pada akhir pekan dapat melakukan aktivitas seperti lagu berjudul 'Mendung Tanpo Udan'.
- Pensiunan. Dengan asumsi telah mendapatkan segalanya ketika menjadi pegawai (PNS) masa pensiun hampir setiap hari mempraktekan bayangan pada lagu 'Mendung Tanpo Udan'.
- Pegawai Swasta Profesional pada tingkat manajerial. Gaji pegawai swasta pada tingkat manajerial kecenderungannya lebih tinggi dibanding dengan PNS. Namun demikian perlu catatan seperti PNS yaitu jumlah anak dan status pekerjaan istri (bekerja/ibu rumah tangga) akan mempengaruhi kecepatan terealisasinya irisan tersebut terutama mobil dan rumah. Kondisi paling ideal antara pekerjaan ini dan 3 kata kunci adalah istri PNS atau pegawai swasta profesional pada tingkat manajerial. Pada akhir pekan dapat melakukan aktivitas seperti lagu berjudul 'Mendung Tanpo Udan'.
Itulah pembedahan definisi kemapanan menurut masyarakat, yaitu pegawai. Anda pegawai, anda mapan. Asumsi yang dipakai pastinya sangat ketat seperti bukan "Sandwich Generation", preferensi dan faktor lainnya yang sengaja tidak disebutkan dianggap ceteris paribus atau tetap. Pekerjaan lainnya seperti investor, ahli IT, konsultan belum familiar di masyarakat secara umum (terutama di pedesaan/perkampungan), yang sering dijumpai adalah peternak/petani, pedagang, buruh bangunan/tukang kayu, buruh sopir, buruh tani, serabutan kasar, pengusaha home industri yang kecenderungan tidak memiliki waktu luang untuk membaca koran sembari menunggu istrinya belanja mengenakan daster
Referensi
- Kamus Besar Bahasa Indonesia - Online
- toppr[dot]com
- Badan Pusat Statistik
- Pikiran Rakyat Cilacap
- Youtube
Komentar
Posting Komentar